Aryuu the unknowable god-Chapter 4: Bab 3: Hari yang Tenang dan Awal Dari Rasa yang Aneh
Chapter 4 - Bab 3: Hari yang Tenang dan Awal Dari Rasa yang Aneh
Mentari pagi menembus sela-sela jendela kecil kamar sederhana ini. Cahaya keemasan menyapa wajahku yang masih terbaring lemas di atas kasur tipis.
Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit reyot yang mulai retak. Suara ayam berkokok dari luar jendela mengisi kesunyian pagi.
Aryuu (dalam hati, tenang):
"Hari baru lagi... Tak ada yang istimewa. Mungkin aku harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan ini. Lagipula, bukankah ini yang aku mau? Menjalani hidup biasa di antara manusia."
Aku duduk di tepi ranjang, mengusap wajahku perlahan. Aku tak ingin berpikir banyak. Hari ini... aku ingin menjadi manusia biasa, meski sejujurnya itu tidak mudah untuk makhluk seperti diriku.
Suara langkah kaki kecil terdengar dari arah dapur. Elina, ibu angkatku, sibuk menyiapkan sarapan seadanya.
Elina (tersenyum lembut meski lelah): "Aryuu, ayo makan dulu. Hari ini kamu pasti butuh tenaga untuk sekolah."
The sourc𝗲 of this content is freēwēbηovel.c૦m.
Aku bangkit dan berjalan pelan ke meja kayu kecil yang menjadi pusat ruangan. Hanya ada sepotong roti kering dan sup sayur yang hambar.
Aryuu (tersenyum tipis): "Terima kasih, Ibu. Ini sudah cukup."
Aku mulai makan perlahan. Rasa hambar itu tidak menggangguku. Bagiku, makanan ini lebih berarti daripada apapun, karena aku tahu, Elina sudah berusaha keras untukku.
Elina (menatapku sambil tersenyum kecil): "Maaf, Ibu hanya bisa menyiapkan ini."
Aryuu (menggeleng pelan, serius): "Jangan minta maaf, Ibu. Aku sangat bersyukur."
Aku melihat wajahnya yang mulai tua sebelum waktunya, karena beban hidup. Entah kenapa, meski aku makhluk yang jauh melampaui semua konsep kekuatan, aku tidak ingin membuatnya kecewa.
Aryuu (dalam hati, menghela napas): "Kalau aku mau, aku bisa menciptakan harta, emas, atau apapun untuknya. Tapi... itu akan merusak kehidupanku sebagai manusia biasa di dunia ini. Aku tidak mau. Aku ingin tahu rasanya 'hidup'... meski berat."
Setelah makan, aku mengambil tas sekolah lusuhku dan bersiap pergi.
Elina (tersenyum, lembut): "Hati-hati, Aryuu. Jangan bertengkar, ya?"
Aryuu (tersenyum kecil, melambaikan tangan): "Aku akan baik-baik saja."
---
Langkah kakiku menyusuri jalan menuju Akademi Arkanis. Udara pagi segar, tapi pikiranku mulai melayang ke arah yang tidak perlu.
Aryuu (berpikir, tatapan kosong ke depan): "Aku tidak boleh berpikir terlalu dalam. Aku datang ke dunia ini hanya untuk... melihat, mengamati, merasakan. Bukan untuk menguasai. Tapi kenapa... ada perasaan aneh? Seperti ada sesuatu yang mulai mengusikku."
Aku menggeleng pelan, mencoba membuang semua pikiran itu.
Aryuu (pelan, bicara sendiri): "Fokus saja, Aryuu. Fokus..."
---
Sesampainya di sekolah, suasana ramai seperti biasa. Anak-anak berbicara tentang sihir, kekuatan, siapa yang lebih hebat, siapa yang keturunan bangsawan.
Aku berjalan pelan, seperti tidak terlihat. Namun aku sadar, tatapan meremehkan itu selalu ada.
Murid 1 (memandang sinis, berbisik ke temannya): "Itu dia si bocah miskin yang bahkan mana-nya hampir nol."
Murid 2 (tertawa pelan): "Kupikir dia udah berhenti sekolah. Malah datang lagi."
Aku tidak peduli. Aku terus melangkah.
Namun tiba-tiba, suara lembut yang akrab memanggilku dari belakang.
Akeno Akame (tersenyum, mengejar): "Aryuu! Tunggu!"
Aku menoleh perlahan. Dia berdiri di sana, wajahnya dihiasi senyum yang entah kenapa... membuat hatiku hangat.
Aryuu (pelan, tenang): "Pagi, Akeno."
Akeno (bersemangat): "Pagi! Mau bareng ke kelas?"
Aku sedikit terkejut, tapi mengangguk pelan.
Aryuu (tersenyum tipis): "Boleh."
Kami berjalan bersama menuju kelas.
Akeno (melirikku, ramah): "Kamu selalu sendirian, Aryuu. Kenapa?"
Aku menatap ke depan, tak tahu harus jawab apa.
Aryuu (pelan): "Aku... hanya tidak suka keramaian."
Akeno (tertawa kecil): "Padahal kamu tidak seburuk yang mereka bilang, tahu?"
Aku menoleh, memandang wajahnya.
Aryuu (heran, lembut): "Kenapa kamu... baik padaku?"
Akeno (tersenyum penuh arti): "Karena aku tahu perasaan diabaikan dan direndahkan. Dan aku tahu... kamu berbeda, Aryuu. Aku bisa merasakannya."
Aku terdiam.
Aryuu (dalam hati, serius): "Dia... bisa merasakan? Tidak mungkin manusia biasa bisa menyadari sesuatu dariku. Siapa sebenarnya Akeno?"
---
Kami sampai di kelas. Hari ini, pelajaran tentang Dasar Sihir Pertahanan.
Guru (berdiri di depan kelas, tegas): "Hari ini, kita akan belajar melindungi diri menggunakan Perisai Mana. Kalian akan berpasangan untuk berlatih."
Semua murid saling memilih pasangan. Aku berpikir, tentu aku tidak akan dipilih siapa-siapa. Tapi, sekali lagi, Akeno berdiri di sampingku.
Akeno (tersenyum): "Aryuu, mau jadi pasanganku?"
Murid lain melihat kami dengan tatapan kaget.
Murid 3 (berbisik sinis): "Hah?! Akeno malah milih bocah miskin itu?"
Murid 4 (heran): "Kenapa dia tertarik sama anak itu, sih?"
Aku menatap Akeno sebentar, lalu mengangguk pelan.
Aryuu (tersenyum tipis): "Baiklah."
---
Kami mulai berlatih. Akeno melontarkan serangan ringan, dan aku berpura-pura kesulitan mengaktifkan perisai.
Akeno (mengernyitkan dahi, pelan): "Aryuu... kamu nggak apa-apa?"
Aryuu (tersenyum hambar): "Aku baik-baik saja."
Namun dalam hati, aku tahu, jika aku mau, aku bisa memunculkan perisai yang mampu menahan kehancuran semesta.
Aryuu (dalam hati, datar): "Konyol. Aku berpura-pura lemah. Padahal aku... lebih dari apapun yang bisa mereka bayangkan."
Saat aku hampir jatuh karena serangan Akeno, dia segera menangkap lenganku.
Akeno (khawatir): "Aryuu, kamu yakin baik-baik saja?"
Aku menatapnya. Ada sesuatu di matanya... ketulusan.
Aryuu (tersenyum kecil): "Iya. Terima kasih, Akeno."
---
Hari itu, untuk pertama kalinya... aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan dalam keabadianku.
Aryuu (dalam hati, serius): "Perasaan ini... apa? Kenapa aku merasa... nyaman saat bersamanya? Ini bukan kekuatan, bukan sihir... tapi hangat."
Aku berjalan pulang sendirian saat matahari mulai tenggelam, tapi pikiran itu terus bermain di kepalaku.
Aryuu (berbisik pelan): "Akeno... siapa sebenarnya dirimu?"
---
Bab 3 - Tamat
Bersambung ke Bab 4: "Pertemuan yang Membuka Tabir Rahasia"