Peace Hunter
Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho
"Aku minta tolong kepadamu untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini," ucap Duke Louis.
Aku sedikit terkejut dengan perkataan Duke Louis. Aku tidak menyangka kalau aku akan dimintai tolong untuk ikut ekspedisi di pegunungan Orokho. Dulu saat aku masih menjadi murid tahun pertama di akademi, aku pernah ditawari untuk ikut ekspedisi di pegunungan Orokho oleh komandan Asier. Komandan Asier melihat aku bisa menggunakan teknik pembunuh naga jadi dia mengajakku untuk membunuh naga yang asli di pegunungan Orokho.
Komandan Asier waktu itu menyebut ’naga es’ yang tinggal di pegunungan Orokho, bukan ’makhluk yang menyerupai naga es’ seperti yang dikatakan oleh Duke Louis dan Duchess Arlet beberapa waktu yang lalu. Saat itu, sepertinya komandan Asier hanya mempercayai rumor-rumor yang beredar kalau ’naga es’ tinggal di pegunungan Orokho. Dia belum pernah pergi ke pegunungan Orokho jadi dia tidak tahu sebenarnya disana ada apa.
Sementara Duchess Arlet, beliau pernah pergi kesana. Beliau tentu tahu makhluk apa yang sebenarnya tinggal disana. Maka dari itu beliau tidak segan-segan langsung menyebut makhluk itu sebagai ’makhluk yang menyerupai naga es’ bukan ’naga es’. Itu berarti sosok makhluk itu merupakan makhluk dari ras atau entitas lain yang mirip dengan naga es.
Sementara itu, setelah Duke Louis meminta tolong kepadaku, kini giliran Duchess Arlet yang meminta tolong kepadaku.
"Aku juga minta tolong kepadamu, Rid. Tolong ikut dalam ekspedisi kali ini. Kami membutuhkan kekuatanmu untuk mengalahkan ’makhluk’ yang tinggal di pegunungan Orokho,"
"Dalam ekspedisi kali ini, selain memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di pegunungan Orokho sehingga membuat banyak hewan buas dan monster yang turun, kami juga berniat untuk mengalahkan ’makhluk’ itu. Aku ingin membalaskan dendamku terhadap ’makhluk’ itu karena telah mengalahkanku dan membantai orang-orang yang ikut dalam ekspedisi saat itu. Tetapi aku sadar diri, aku tidak cukup kuat untuk mengalahkan ’makhluk’ itu. Bahkan, meski seluruh anggota San Lucia bergabung dan ikut dalam ekspedisi ini, aku yakin kalau itu masih tidak cukup untuk bisa mengalahkan ’makhluk’ itu. Karena itu, kami butuh kekuatanmu, Rid. Kamu yang sebelumnya pernah melawan tuan Remy yang kami semua tidak bisa lawan, pasti bisa mengalahkan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.
Aku hanya terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Meski Duchess Arlet memujiku seperti itu, aku tidak langsung menanggapi perkataannya. Aku tidak langsung menanggapi perkataan Duchess Arlet karena aku sedang memikirkan perkataan Duchess Arlet barusan. Duchess Arlet lagi-lagi menekankan kata ’makhluk’ kepada sosok yang tinggal di pegunungan Orokho dan bukan memakai kata ’naga’ ataupun ’naga es’. Semakin membuktikan kalau ’makhluk’ yang tinggal di pegunungan Orokho itu bukanlah ’naga es’ asli melainkan sosok ras atau entitas lain yang wujudnya menyerupai naga es.
Tetapi itu hanya opiniku saja, untuk lebih jelasnya alangkah baiknya aku bertanya langsung tentang ’makhluk’ itu kepada Duchess Arlet dan Duke Louis. Sebelumnya, ketika aku mendapat peringatan dari Duke Louis dan Duchess Arlet soal larangan untuk pergi ke pegunungan Orokho karena ada ’makhluk yang menyerupai naga es’ itu, aku memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut meskipun aku sendiri penasaran. Tetapi sekarang, karena aku dimintai tolong untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho untuk mengalahkan ’makhluk itu’, sepertinya tidak ada salahnya jika aku meminta penjelasan detail soal ’makhluk’ itu kepada Duke Louis dan Duchess Arlet.
Tetapi sebelum aku meminta penjelasan detailnya, aku memilih untuk menerima permintaan mereka terlebih dahulu.
"Baiklah, paman Louis, bibi Arlet, aku akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucapku.
Duke Louis dan Duchess Arlet nampak senang setelah mendengar perkataanku.
"Terima kasih karena telah menerima permintaan kami, Rid," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, Rid," ucap Duchess Arlet.
"Sama-sama, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.
Alasanku menerima permintaan Duke Louis dan Duchess Arlet karena selama ini aku selalu diperlakukan dengan baik oleh Duke Louis, Duchess Arlet dan seluruh keluarga San Lucia lainnya. Jika mereka meminta tolong kepadaku, sudah pasti aku akan membantu mereka. Tidak peduli permintaan apapun itu, aku pasti akan membantu mereka apabila aku sanggup. Ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho merupakan permintaan yang bisa aku sanggupi. Aku bisa menjadikan ekspedisi ini sebagai latihan terakhir sebelum nanti aku dilantik menjadi komandan prajurit yang baru dan berpergian ke kerajaan atau negara lain.
Selain itu, dulu aku juga pernah berjanji kepada Irene untuk membantunya mengalahkan ’naga es’ yang telah mengalahkan Duchess Arlet. Meski sekarang bisa dibilang kalau sosok yang mengalahkan Duchess Arlet bukanlah ’naga es’ melainkan makhluk lain, janji tetaplah janji. Aku akan membantu mengalahkan makhluk itu, maka dari itu aku menyetujui untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho.
Setelah menerima permintaan Duke Louis dan Duchess Arlet, selanjutnya aku ingin meminta penjelasan detail soal ’makhluk yang menyerupai naga es’ yang ada di pegunungan Orokho yang sebelumnya pernah disebut oleh Duke Louis dan Duchess Arlet. Tetapi ketika aku ingin berbicara untuk meminta penjelasan itu, tiba-tiba Irene telah lebih dulu berbicara.
"Ayahanda, ibunda, aku juga ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Jika Rid ikut dalam ekspedisi itu, maka aku ingin ikut juga," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet nampak terkejut setelah mendengar perkataan Irene, sementara aku hanya bersikap biasa saja karena aku memang sudah tahu kalau jika ada ekspedisi ke pegunungan Orokho kembali, Irene akan ikut dalam ekspedisi itu.
"Apa!? Kamu ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho?!," tanya Duke Louis yang masih terkejut.
"Iya," ucap Irene.
"Apa kamu tidak tahu kalau ekspedisi ke pegunungan Orokho merupakan ekspedisi yang berbahaya?," tanya Duke Louis.
"Aku tahu, ayahanda. Aku tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu. Aku tahu berapa banyak korban yang sudah tewas karena ekspedisi itu, salah satunya adalah orang-orang yang ikut dalam ekspedisi bersama ibunda, mereka semua tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Bahkan ibunda sendiri terluka parah dan mengalami ’Frozen Sleep’ karena ekspedisi itu,"
"Aku tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu, ayahanda. Tetapi aku tetap ingin ikut dalam ekspedisi itu," ucap Irene.
Setelah mendengar perkataan Irene, Duke Louis nampak tidak ingin menyetujui keinginan Irene itu. Itu semua terlihat dari wajahnya.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa mengizink-,"
Sebelum Duke Louis menyelesaikan perkataannya, Duchess Arlet tiba-tiba memotong perkataan Duke Louis.
"Tunggu sebentar, sayang. Biar aku saja yang berbicara dengan Irene," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis pun terdiam sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Duchess Arlet. Setelah itu, Duchess Arlet pun mulai berbicara dengan Irene.
"Irene, kamu bilang kamu ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho?," tanya Duchess Arlet.
"Iya, ibunda," ucap Irene.
"Apa alasannya?," tanya Duchess Arlet lagi.
"Aku ingin mengalahkan ’makhluk’ yang telah mengalahkan ibunda sebelumnya sekaligus yang telah membuat iklim di pegunungan Orokho serta di wilayah San Lucia menjadi dingin. Aku ingin mengalahkan ’makhluk’ itu dan membuat iklim di wilayah San Lucia kembali seperti semula karena itu merupakan impianku," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet kembali terkejut setelah mendengar perkataan Irene. Sementara aku justru penasaran dengan pemilihan kata yang digunakan Irene. Dulu, Irene menggunakan kata ’naga es’ untuk sosok yang tinggal di pegunungan Orokho, tetapi sekarang dia menggunakan kata ’makhluk’. Sepertinya Irene sudah tahu tentang sosok sebenarnya yang tinggal di pegunungan Orokho. Mungkin Duke Louis dan Duchess Arlet sudah memberitahukannya soal itu kepada Irene. Tetapi Irene tidak pernah membahas tentang hal itu kepadaku.
"Kamu ingin mengalahkan makhluk yang ada di pegunungan Orokho itu?," tanya Duke Louis yang masih terkejut.
"Iya," ucap Irene.
"Itu mustahil, Irene. Mustahil kamu bisa mengalahkan makhluk itu. Ibumu saja yang merupakan anggota keluarga San Lucia terkuat saja tidak mampu mengalahkannya. Bahkan meski dia sudah menggunakan teknik terlarang keluarga San Lucia, dia masih tidak bisa mengalahkan makhluk itu. Jadi mustahil bagimu untuk bisa mengalahkan makhluk itu, Irene," ucap Duke Louis yang terlihat masih tidak ingin Irene ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho.
"Meski begitu, aku tetap ingin ikut ekspedisi itu, ayahanda," ucap Irene.
"Irene!!," ucap Duke Louis.
Duke Louis terlihat mulai marah kepada Irene karena Irene terus memaksa untuk ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Sementara itu, disaat Duke Louis mulai marah, Duchess Arlet langsung menenangkan Duke Louis.
"Tenanglah, sayang. Aku tahu kamu tidak mau Irene ikut karena kamu tidak mau terjadi apa-apa kepada Irene. Meski begitu, bukan berarti kamu harus memarahi Irene agar dia tidak mau ikut," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Duke Louis pun juga terlihat sudah kembali tenang dan tidak marah lagi.
"Kamu terlalu protektif kepada Irene, sayang. Tetapi aku pikir itu wajar karena kamu yang paling lama menjaga dan merawat Irene, apalagi ketika aku masih tertidur karena efek ’Frozen Sleep’,"
"Namun saat ini Irene sudah dewasa, kasian Irene jika kamu masih terlalu protektif kepadanya. Biarlah Irene menentukan pilihannya sendiri, seperti sebelumnya ketika dia ingin ikut bersama Rid dalam mewujudkan impiannya. Yah meski aku memberikan syarat kepada Irene agar dia bisa ikut dengan Rid, tetapi aku akan memperbolehkannya apabila syarat itu terpenuhi,"
"Saat ini pun juga sama, biarlah Irene yang menentukan pilihannya sendiri. Biarkan saja jika dia ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Aku tahu kalau kamu khawatir dengannya karena kamu merupakan ayahnya, aku sebagai ibunya pun juga khawatir. Tetapi kita tidak bisa selalu melarang Irene yang sudah menentukan pilihannya itu, apalagi sekarang dia sudah dewasa. Dia berhak menentukan pilihannya sendiri," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis hanya terdiam saja setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Wajahnya terlihat kecewa, entah itu kecewa pada diri dia sendiri karena terlalu protektif kepada Irene atau karena hal lain. Sementara itu, setelah memberikan penjelasan kepada Duke Louis, Duchess Arlet lalu menoleh ke Irene.
"Irene," ucap Duchess Arlet.
Irene pun langsung menoleh ke arah Duchess Arlet setelah mendengar namanya disebut.
"Aku terkesan dengan impianmu itu, Irene. Aku terkesan kamu ingin mengalahkan makhluk yang telah mengalahkanku. Rasanya seperti kamu ingin membalas dendam untukku. Tetapi..... makhluk yang ada di pegunungan Orokho itu bukan makhluk yang bisa dikalahkan dengan mudah. Makhluk itu adalah monster yang bisa mengendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene pun terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Sebelumnya aku hanya mengetahui kalau makhluk yang ada di pegunungan Orokho adalah ’makhluk yang menyerupai naga es’, tetapi sekarang aku mendapatkan informasi tambahan kalau makhluk itu bisa mengendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya.
Lalu, ketika aku melihat Irene yang juga terkejut, sepertinya dia juga baru mengetahui soal ini. Dia mungkin sudah tahu soal ’makhluk yang menyerupai naga es’ yang tinggal di pegunungan Orokho tetapi dia belum mengetahui secara detail soal itu sama sepertiku.
"Monster yang bisa mengendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya? Sebenarnya makhluk apa yang tinggal di pegunungan Orokho itu? Sebelumnya aku hanya mendengar rumor kalau ada naga es yang tinggal di pegunungan Orokho, tetapi kemudian aku mendapatkan informasi dari bibi Arlet dan paman Louis kalau yang tinggal di pegunungan Orokho merupakan ’makhluk yang menyerupai naga es’. Saat mendengar tentang informasi itu, aku memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih detail. Tetapi karena sekarang aku akan ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho, aku jadi penasaran tentang informasi detailnya. Apalagi kita pasti akan melawan makhluk itu di ekspedisi nanti,"
"Bibi Arlet, paman Louis, tolong ceritakan dengan detail soal makhluk apa yang tinggal di pegunungan Orokho itu," ucapku.
Karena pembicaraan antara Duchess Arlet dengan Irene mengarah ke sosok yang tinggal di pegunungan Orokho itu, aku jadi punya kesempatan untuk meminta penjelasan detail soal sosok itu ke Duke Louis dan Duchess Arlet.
"Aku juga penasaran soal itu, ibunda. Sebelumnya ibunda hanya menceritakan saja kalau yang ibunda lawan merupakan ’makhluk yang menyerupai naga es’ tetapi ibunda tidak pernah menceritakan dengan detail soal hal itu," ucap Irene.
Setelah mendengar perkataan Irene, baik Duke Louis dan Duchess Arlet pun terdiam. Tetapi tidak lama kemudian, Duchess Arlet mulai berbicara.
"Biar aku saja yang menjelaskannya, sayang, apalagi aku sendiri yang bertarung dengan makhluk itu," ucap Duchess Arlet kepada Duke Louis.
Duke Louis pun mengangguk setuju. Setelah itu, Duchess Arlet pun mulai berbicara kembali.
"Rid, tadi kamu bilang kalau sebelumnya kamu hanya mendengar rumor kalau ada ’naga es’ di pegunungan Orokho. Irene pasti juga sama, awalnya kamu pasti hanya mendengar rumor soal ini," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene pun mengangguk setuju.
"Aku pun juga sama. Tidak hanya aku saja, suamiku dan seluruh keluarga San Lucia percaya kalau yang tinggal di pegunungan Orokho adalah sosok ’naga es’. Ketika aku dan pasukan ekspedisi yang bersamaku tiba di pegunungan Orokho, kami dihampiri dan diserang oleh banyak ’naga es’ baik itu yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar. Mungkin besarnya sama seperti 2 naga es yang kamu kalahkan diperbatasan tadi," ucap Duchess Arlet.
Aku hanya terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, sementara Duchess Arlet terus melanjutkan penjelasannya.
"Saat itu, kami terkejut melihat banyaknya naga es itu. Kami terkejut karena saat itu kami menganggap kalau yang tinggal di pegunungan Orokho adalah pemimpin naga es yang masih tersisa saja, tetapi malah ada banyak naga es yang menghampiri dan menyerang kami. Meski sempat terkejut, aku menyadari adanya keanehan pada tubuh para naga es itu. Tubuh naga es itu terlihat seperti naga buatan yang terbuat dari sihir es. Setelah membuktikannya dengan mengalahkan salah satu naga es itu, ternyata benar kalau para naga itu merupakan naga buatan, bukan naga yang sesungguhnya,"
"Saat itu, aku berpikir kalau sosok pemimpin naga es itulah yang menciptakan mereka semua. Lalu, setelah kami yang tersisa sudah mengalahkan semua naga es itu baik itu naga es berukuran kecil hingga yang besar, aku memutuskan untuk mengakhiri ekspedisi di pegunungan Orokho saat itu. Hal itu dikarenakan ada 11 dari para prajurit ekspedisi yang telah tewas karena serangan naga es itu. Tidak mungkin kami melanjutkan ekspedisi dalam kondisi seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk kembali dengan para prajurit yang tersisa sambil membawa jasad 11 prajurit yang telah tewas itu,"
"Tetapi saat kami ingin kembali ke kota San Lucia, tiba-tiba kami didatangi oleh seorang wanita yang mirip dengan manusia tetapi dia memiliki tanduk, sayap dan ekor yang mirip seperti tanduk dan ekor naga. Matanya pun juga mirip seperti mata naga," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene pun kembali terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Aku pernah membaca buku yang membahas soal ras naga. Naga tingkat tinggi atau naga yang lebih unggul dari naga lainnya entah itu dari kekuatan, status dan lainnya, mempunyai kemampuan untuk berubah wujud ke wujud humanoid mereka yaitu wujud yang mirip dengan manusia tetapi tidak menghilangkan karakteristik ras mereka. Contohnya meski mereka berubah wujud menjadi mirip manusia, mereka mempunyai mata, tanduk dan ekor, bahkan sayap yang menyerupai naga.
Setelah mendengar kalau Duchess Arlet dihampiri oleh wanita yang berwujud seperti wujud humanoid naga, aku mengira kalau wanita itu merupakan naga tingkat tinggi. Setidaknya begitu sampai aku mendengar lanjutan penjelasan dari Duchess Arlet.
"Wanita itu menganggap kalau dia pemimpin naga es yang tinggal di pegunungan Orokho. Aku langsung mempercayai begitu saja ucapan wanita itu, apalagi setelah melihat wujudnya yang mirip dengan wujud humanoid naga tingkat tinggi. Tetapi begitu aku bertarung dengannya secara langsung, aku menyadari kalau wanita itu sepertinya bukanlah naga,"
"Wanita itu bisa menggunakan sihir es dengan baik. Sihir es yang digunakannya meski terlihat sebagai sihir es yang sepele tetapi dampak dari serangan sihir esnya itu sangat berbahaya karena bisa langsung menyebabkan kematian. Sebagian dari prajurit ekspedisi yang tersisa tewas karena serangan sihir es dari wanita itu. Lalu, wanita itu juga bisa mengendalikan seluruh wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya. Sebagian lagi dari prajurit ekspedisi yang tersisa tewas karena tempat mereka berpijak tiba-tiba berubah menjadi duri berukuran besar yang tajam. Padahal jarak mereka dengan wanita itu sudah jauh tetapi wanita itu bisa mengendalikan tempat para prajurit itu berada karena para prajurit itu masih berada di wilayah pegunungan Orokho,"
"Selain itu, wanita itu juga tidak bisa terluka. Hal itu yang membuatku yakin kalau wanita itu bukanlah naga meskipun wujudnya menyerupai naga," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene kembali terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet.
"Tidak bisa terluka!?," ucap Irene.
"Apa tubuh wanita itu sama sekali tidak bisa tergores oleh serangan anda?," tanyaku.
"Tidak, aku justru bisa menggores tubuh wanita itu. Aku bisa menyerang tubuhnya seperti menusuknya, bahkan aku sempat memotong-motong tubuhnya menjadi beberapa bagian dengan seranganku. Tetapi, setiap aku berpaling dan menganggap kalau aku sudah menang melawannya, tiba-tiba tubuhnya sudah pulih kembali. Tubuhnya yang sebelumnya sudah terpotong-potong telah kembali menjadi utuh lagi," ucap Duchess Arlet.
"Tubuhnya bisa pulih kembali meskipun sudah terpotong-potong? Apa mungkin tubuh itu adalah sebuah clone?," tanya Irene yang masih terkejut.
"Tidak, entah kenapa aku merasa kalau yang aku lawan saaf itu bukanlah sebuah clone melainkan memang tubuh aslinya. Aku juga merasa kalau itu bukanlah sebuah ilusi. Lalu aku sempat berpikir kalau dia menggunakan sihir pemulihan untuk memulihkan tubuhnya tetapi bagaimana bisa dia menggunakan sihir penyembuhan ketika tubuhnya sudah terpotong-potong? Ketika tubuhnya sudah terpotong-potong seharusnya dia sudah mati," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Apa yang dikatakan oleh Duchess Arlet itu masuk akal. Aku yang bisa menggunakan sihir penyembuhan tidak akan bisa menggunakan sihir penyembuhan saat tubuhku sudah terpotong-potong. Jika hanya 1 atau 2 anggota tubuhku yang terpotong kecuali kepala, aku mungkin masih bisa menggunakan sihir penyembuhan karena aku pasti masih tersadar. Tetapi jika tubuhku sudah terpotong-potong menjadi beberapa bagian, jangankan tersadar, saat itu terjadi aku pasti sudah mati jadi mustahil aku bisa menggunakan sihir penyembuhan ketika aku sudah mati.
Hal itu membuatku bingung dan bertanya-tanya tentang makhluk yang dilawan Duchess Arlet. Makhluk itu bisa memulihkan tubuhnya lagi meski tubuhnya sudah terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
"Sebenarnya makhluk apa yang dilawan oleh bibi Arlet di pegunungan Orokho?," pikirku.
Saat aku memikirkan hal itu, tiba-tiba dipikiranku terlintas suatu ras yang kemampuannya sama seperti yang diceritakan oleh Duchess Arlet. Aku pernah membaca buku yang membahas tentang ras lain jadi aku sedikit tahu tentang kemampuan ras lain selain manusia.
"Makhluk yang dilawan bibi Arlet itu, jangan-jangan.....," pikirku.
Saat aku sedang memikirkan itu, Duchess Arlet tiba-tiba kembali melanjutkan penjelasannya. 𝒻𝘳𝘦𝘦𝘸ℯ𝒷𝘯𝘰𝑣ℯ𝑙.𝘤𝑜𝘮
"Meski makhluk itu mengklaim sebagai pemimpin naga es, apalagi wujudnya juga mirip dengan wujud humanoid naga, tetapi aku yakin kalau makhluk itu sebenarnya bukanlah naga,"
"Melihat kemampuan sihir esnya yang luar biasa, kemampuannya dalam mengendalikan wilayah pegunungan Orokho baik itu medannya atau iklimnya, kemampuan pemulihannya meskipun tubuhnya sudah terpotong-potong dan penampilannya yang mengambil wujud wanita, hal itu membuatku mendapatkan kesimpulan tentang wujud sebenarnya wanita itu,"
"Wanita itu sepertinya merupakan salah satu Roh tingkat tinggi. Salah satu dari Divine Elemental Spirits yang merupakan ratu atau pemimpin dari segala Roh es, Divine Ice Elemental Spirits," ucap Duchess Arlet.
-Bersambung
*Note dari Author :
Halo para pembaca Peace Hunter. Saya mau menginformasikan kalau novel Peace Hunter akan update lebih lambat di platform ini. Hal ini dikarenakan saya ingin fokus update di platform dimana saya membuat bab berbayar untuk novel ini. Di platform ini, novel Peace Hunter tidak mendapatkan kontrak sehingga saya tidak bisa membuat bab berbayar pada novel ini. Ini dibuktikan dengan tidak adanya bab berbayar dari Chapter 1 sampai Chapter terbaru sehingga kalian bisa membacanya secara gratis.
Jika kalian ingin membaca di platform yang updatenya cepat, kalian bisa membaca di aplikasi Joyread, Novelah, Hinovel dan Funread. Di aplikasi tersebut, novel Peace Hunter sudah mencapai Chapter 511.
Tetapi jika kalian masih tetap ingin membaca di platform ini, saya tidak akan mempermasalahkannya tetapi saya minta kalian untuk memaklumi apabila update bab terbaru di platform ini lebih lambat.
Itu saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.