Peace Hunter

Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2

Peace Hunter

Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2

Translate to
Chapter 505: Chapter 505 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, Irene terlihat sangat terkejut.

"Divine Ice Elemental Spirits!?," ucap Irene.

Tidak hanya Irene saja, aku pun juga terkejut. Tetapi aku tidak terlalu terkejut karena sebelumnya aku sudah menduga identitas sebenarnya dari makhluk itu. Aku terkejut karena ternyata dugaanku benar.

"Ternyata dugaanku benar. Makhluk yang dilawan bibi Arlet itu ternyata merupakan salah satu Divine Elemental Spirits. Divine Elemental Spirits, Roh tingkat tinggi yang merupakan roh terkuat setelah pemimpin mereka yaitu Spirit Queen,"

"Dari buku tentang para Roh yang aku baca, tempat tinggal para Roh berada di negeri Roh, ’Geestenland’ yang letaknya berada di tengah hutan besar yang bernama ’Himnaskogur’ yang letaknya di bagian barat laut benua utara ini. Kenapa makhluk seperti itu bisa ada di pegunungan Orokho yang berada di bagian timur benua utara ini? Jarak antara hutan ’Himnaskogur’ dengan pegunungan Orokho sangatlah jauh," pikirku.

Disaat aku sedang memikirkan itu, aku mendengar Duchess Arlet kembali berbicara.

"Tetapi apa yang barusan aku bilang hanyalah kesimpulan yang aku pikirkan saja. Aku tidak tahu apakah makhluk itu benar-benar adalah Divine Ice Elemental Spirits atau bukan karena aku belum memastikannya sendiri. Aku hanya menebak dari wujud dan kekuatannya saja," ucap Duchess Arlet.

Setelah mengatakan itu, Duchess Arlet lalu menoleh ke arahku dan mulai berbicara kembali.

"Rid, jika makhluk itu benar merupakan Divine Ice Elemental Spirits, apa kamu bisa mengalahkannya?," tanya Duchess Arlet.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Duchess Arlet dan memilih untuk diam sejenak. Tetapi tidak lama kemudian, aku mulai menjawab pertanyaan Duchess Arlet.

"Aku tidak tahu, bibi Arlet. Selama ini, aku belum pernah mengalahkan Roh sekalipun baik itu Roh tingkat rendah maupun Roh tingkat tinggi. Tetapi setidaknya aku tahu cara mengalahkan Roh,"

"Dari buku yang membahas tentang para ras lain yang pernah aku baca, Roh memiliki ’Spirit Core’ yang merupakan jantung mereka. Apabila ’Spirit Core’ pada sebuah Roh dihancurkan atau diambil, Roh tersebut akan mulai melemah. Selain itu, ’Spirit Core’ juga berperan penting untuk bisa mengalahkan para Roh. Keistimewaan para Roh adalah mereka dapat membentuk tubuh mereka kembali apabila tubuh mereka dipotong, dihancurkan atau diserang dengan metode apapun. Tetapi jika ’Spirit Core’ mereka dihancurkan atau diambil lebih dulu, mereka tidak akan bisa membentuk tubuh mereka kembali setelah mereka diserang. Apabila tubuh mereka hancur seutuhnya setelah ’Spirit Core’ mereka dihancurkan atau diambil, mereka akan langsung mati,"

"Namun, meski mereka memiliki kelemahan yaitu ’Spirit Core’, ’Spirit Core’ tidak bisa dilihat oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat ’Spirit Core’ dalam tubuh para Roh. Aku tidak tahu apakah aku termasuk dalam orang-orang itu atau tidak karena aku belum pernah bertemu dengan Roh jadi aku tidak tahu apakah aku bisa melihat ’Spirit Core’ atau tidak," ucapku.

Duke Louis, Duchess Arlet dan Irene terlihat hanya diam saja sambil fokus mendengar perkataanku. Sementara itu, aku terus melanjutkan perkataanku.

"Baik itu Roh tingkat rendah, Roh tingkat menengah dan Roh tingkat tinggi seperti Divine Elemental Spirits, mereka sudah pasti dapat dikalahkan apabila ’Spirit Core’ mereka dihancurkan atau diambil dari tubuh mereka. Tetapi untuk para Roh tingkat tinggi seperti Divine Elemental Spirits, menurut buku yang aku baca, ’Spirit Core’ mereka memiliki karakteristik yang berbeda dengan ’Spirit Core’ yang dimiliki oleh Roh tingkat rendah dan Roh tingkat menengah. Tetapi aku tidak tahu apa yang membedakannya. Buku itu hanya bilang kalau ’Spirit Core’ mereka berbeda tetapi tidak memberi tahu apa perbedaannya,"

"Selain menghancurkan atau mengambil ’Spirit Core’, ada satu cara lain untuk bisa mengalahkan Roh yaitu dengan menunggu mereka kehabisan Mana dan mereka akan melemah dengan sendirinya. Tentu cara yang ini merupakan cara tersulit apalagi untuk melawan Roh tingkat tinggi karena sulit mengetahui kapan mereka akan kehabisan Mana. Roh tingkat tinggi memiliki kapasitas Mana yang lebih besar dari Roh yang tingkatnya berada di bawah mereka. Jadi sulit mengetahui kapan mereka akan kehabisan Mana disaat kita sedang bertarung melawan mereka," ucapku.

Setelah aku selesai berbicara, Duchess Arlet pun mulai berbicara kembali untuk menanggapi perkataanku.

"Cara mengalahkan Roh yang barusan kamu jelaskan kurang lebih sama dengan yang aku tahu. Jadi, karena kamu sudah tahu cara mengalahkan Roh, karena kamu sudah mengetahui kelemahan mereka, apa kamu bisa mengalahkannya apabila makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu merupakan Divine Ice Elemental Spirits?," tanya Duchess Arlet.

Aku pun langsung menjawab pertanyaan Duchess Arlet.

"Sama seperti yang aku katakan sebelumnya, bibi Arlet. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengalahkannya karena selama ini aku belum pernah mengalahkan Roh sekalipun. Meski begitu, aku akan mencobanya. Aku akan mencoba untuk mengalahkan makhluk itu meskipun makhluk itu merupakan salah satu dari Divine Elemental Spirits,"

"Jika aku bisa mengalahkan makhluk itu, itu menandakan kalau aku sudah semakin kuat. Itu juga menandakan kalau aku sudah bisa bertarung atau melawan orang-orang atau para makhluk kuat yang ada di dunia ini. Selain Divine Elemental Spirits yang merupakan Roh terkuat, di dunia ini masih ada orang atau makhluk yang lebih kuat dari mereka," ucapku.

Saat aku mengatakan itu, tiba-tiba aku teringat pertarunganku dengan nona Leirion di Akademi. Saat itu, aku benar-benar dikalahkan dengan telak olehnya. Aku bahkan tidak bisa menyerangnya sekalipun. Saat itu, aku menyadari kalau perbedaan kekuatanku dengannya terlampau sangat jauh. Entah sekarang jika aku melawannya lagi, apakah aku sudah bisa melawannya dengan seimbang atau belum.

"Untuk bisa mewujudkan impianku yaitu membuat seluruh dunia ini menjadi damai, aku pasti akan menghadapi orang-orang atau para makhluk kuat di dunia ini yang tidak setuju dengan impianku. Jika aku tidak bisa menghadapi dan melawan mereka, maka aku tidak akan bisa mewujudkan impianku,"

"Hal ini berlaku juga untuk makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho. Aku tidak tahu apakah makhluk itu benar-benar Divine Ice Elemental Spirits atau bukan, tetapi yang jelas apabila aku tidak bisa mengalahkan makhluk itu, aku tidak akan bisa mewujudkan impianku. Itu karena jika aku tidak bisa mengalahkan makhluk itu, maka aku pastinya juga tidak akan bisa mengalahkan orang-orang atau para makhluk kuat di dunia ini yang tidak setuju dengan impianku,"

"Jadi aku akan mengalahkan makhluk itu, bibi Arlet. Jika makhluk itu benar Divine Ice Elemental Spirits, meski aku belum pernah mengalahkan Roh, aku akan mencoba mengalahkan makhluk itu. Aku akan mengalahkan makhluk itu untuk membuktikan kalau aku bisa mewujudkan impianku," ucapku.

Setelah aku mengatakan itu, Duke Louis, Duchess Arlet dan Irene terlihat terkejut. Tidak lama kemudian, Duchess Arlet tiba-tiba tersenyum.

"Begitu ya. Itu melegakan mendengar kamu akan mencoba dan berusaha untuk mengalahkan makhluk itu. Kamu nampak sangat percaya diri ketika mengatakan itu. Tidak salah kami mempercayakanmu untuk mengalahkan makhluk itu, Rid," ucap Duchess Arlet sambil tersenyum.

"Serahkan padaku, bibi Arlet. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengalahkan makhluk itu," ucapku.

"Iya, aku serahkan padamu nanti," ucap Duchess Arlet.

Setelah mengatakan itu, Duchess Arlet lalu menoleh ke arah Irene dan mulai berbicara.

"Bagaimana, Irene? Setelah mendengar dan mengetahui kalau makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu kemungkinan adalah Divine Ice Elemental Spirits, apa kamu masih ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho untuk mengalahkan makhluk itu?," tanya Duchess Arlet.

Tanpa basa-basi, Irene langsung menjawabnya.

"Aku tetap ingin ikut, ibunda. Tidak peduli apapun wujud sebenarnya makhluk itu, aku tetap ingin ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho,"

"Jika makhluk itu benar merupakan Divine Ice Elemental Spirits, melawannya mungkin akan menjadi pengalaman yang berharga sebelum aku ikut dengan Rid untuk mewujudkan impiannya. Seperti yang barusan Rid bilang, untuk mewujudkan impiannya, dia pasti akan menghadapi orang-orang atau para makhluk kuat yang tidak setuju dengan impiannya. Aku yang ikut dengannya juga pasti akan melawan mereka,"

"Jika aku melawan dan bertarung dengan Divine Ice Elemental Spirits itu, mungkin hal itu dapat membantuku agar aku terbiasa menghadapi lawan-lawan yang sangat kuat nanti disaat aku ikut pergi dengan Rid," ucap Irene.

Duke Louis terlihat hanya diam saja setelah mendengar perkataan Irene, sementara Duchess Arlet terlihat tersenyum.

"Begitu ya. Jadi kamu ingin tetap ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.

"Iya, ibunda," ucap Irene.

Setelah itu, Duchess Arlet pun terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara lagi.

"Baiklah. Kamu boleh ikut, Irene," ucap Duchess Arlet.

Irene terlihat sedikit tidak percaya setelah mendengar perkataan Duchess Arlet.

"Benarkah, ibunda?," tanya Irene.

"Iya. Aku memperbolehkankanmu untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.

Setelah memastikan lagi kalau dia benar-benar boleh ikut, Irene lalu mengucapkan terima kasih kepada Duchess Arlet karena telah memperbolehkannya untuk ikut dalam ekspedisi.

"Terima kasih, ibunda," ucap Irene.

"Iya," ucap Duchess Arlet.

Sementara itu, Duke Louis terlihat hanya diam saja dan tidak bereaksi apa-apa. Padahal sebelumnya Duke Louis menentang Irene untuk ikut dalam ekspedisi.

Setelah itu, kami pun terus membahas tentang ekspedisi di pegunungan Orokho.

"Ngomong-ngomong, bibi Arlet, kapan rencananya ekspedisi itu akan dilaksanakan?," tanyaku.

"Kami berencana untuk melaksanakan ekspedisinya 3 hari lagi. Mulai besok dan lusa kami akan fokus untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk ekspedisi yang akan dilaksanakan di hari selanjutnya,"

"Kami harus mendata para prajurit yang akan ikut. Selain prajurit milik kami, kami juga harus mendata para prajurit kerajaan San Fulgen dan para prajurit Storm Leopard yang akan ikut. Tadi kami sudah membicarakan rencana kami untuk melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho dengan Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu bilang kalau beliau akan memberikan bantuan dengan mengutus beberapa prajuritnya yang bertugas di Ibukota San Estella dan beberapa prajurit Storm Leopard milik komandan Allister. Saat kami membicarakannya dengan komandan Allister tadi ketika dia memberikan laporan tentang 2 naga es itu, komandan Allister menyetujui bantuan Yang Mulia Ratu dan akan mengutus beberapa prajuritnya. Jadi para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi nanti terdiri dari para prajurit milik kami, prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu yang bertugas di ibukota," ucap Duchess Arlet.

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, aku lalu memberikan tanggapanku.

"Jika beberapa prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu juga ikut, bukankah itu berarti akan ada banyak orang yang ikut dalam ekspedisi nanti?," tanyaku.

"Seharusnya iya, tetapi kami berencana untuk menjelaskan tentang makhluk yang akan kita semua hadapi di pegunungan Orokho nanti kepada para prajurit entah itu prajurit milik kami, prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu. Kami tidak ingin menutupi atau membohongi mereka jadi kami akan menjelaskan semuanya dengan jujur kepada mereka. Kami juga akan menjelaskan tentang bahaya yang akan mereka hadapi nanti ketika melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho,"

"Setelah menjelaskan kepada mereka, kami mempersilahkan mereka untuk memilih apakah mereka ingin tetap ikut atau tidak. Menurutku, setelah mereka mengetahui apa yang akan mereka lawan nanti dan bahayanya, mungkin hanya sedikit saja dari mereka yang akan tetap ikut," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan Duchess Arlet tetapi menurutku, apa yang akan Duchess Arlet dan Duke Louis lakukan itu sangat baik. Mereka menjelaskan terlebih dahulu tentang apa yang akan para prajurit itu lawan di pegunungan Orokho dan seberapa besar bahayanya. Mereka tidak mau para prajurit itu terkejut nanti saat sampai di pegunungan Orokho apabila mereka tidak menjelaskannya lebih dulu. Apalagi, mereka juga mempersilahkan para prajurit itu untuk memilih apakah para prajurit itu ingin tetap ikut dalam ekspedisi atau tidak.

Aku ingin mengatakan hal itu kepada Duchess Arlet tetapi sepertinya saat ini lebih baik aku diam saja.

"Lalu, setelah mendata para prajurit yang akan ikut, kami kemudian harus mempersiapkan perbekalan yang mencukupi untuk semua orang yang ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho nanti. Pokoknya selama 2 hari ke depan, kami akan benar-benar sibuk untuk mempersiapkan ekspedisi itu," ucap Duchess Arlet.

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, aku berinisiatif untuk menawarkan bantuan kepada mereka.

"Apa ada yang bisa aku bantu, bibi Arlet? Karena bibi Arlet dan paman Louis akan sibuk nanti, mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu," ucapku.

"Aku juga ingin membantu. Jika ada yang bisa aku bantu, katakan saja, ibunda," ucap Irene yang juga berinisiatif menawarkan bantuan.

"Kalian tidak perlu melakukan apa-apa sampai dilaksanakannya ekspedisi nanti. Kalian fokus saja untuk berlatih dan mempersiapkan diri," ucap Duchess Arlet.

"Baiklah, bibi Arlet," ucapku.

"Baik, ibunda," ucap Irene.

Sepertinya tidak ada yang bisa aku dan Irene lakukan untuk membantu mereka.

"Oh iya soal berlatih, karena aku akan sibuk mulai besok sampai dilaksanakannya ekspedisi nanti, aku jadi tidak bisa melatihmu dan berlatih tanding denganmu untuk sementara waktu, Irene. Aku minta maaf," ucap Duchess Arlet.

"Tidak apa-apa, ibunda. Ibunda tidak perlu minta maaf," ucap Irene.

"Baiklah. Meski begitu aku tetap merasa tidak enak. Sebagai gantinya, setelah kita semua berhasil mengalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu, aku berjanji akan mengizinkanmu untuk pergi bersama Rid dalam mewujudkan impiannya," ucap Duchess Arlet.

Irene terlihat sedikit terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Namun meski sempat terkejut, Irene kemudian langsung menanggapi perkataan Duchess Arlet.

"Tidak, ibunda. Meskipun kita berhasil mengalahkan makhluk itu, tetapi jika aku masih belum bisa mengalahkanmu, maka aku tidak bisa pergi. Sesuai syarat yang kita sepakati sebelumnya, ibunda, aku baru bisa pergi setelah aku berhasil mengalahkanmu. Jadi aku akan mengalahkanmu terlebih dahulu sebelum aku pergi bersama Rid, ibunda," ucap Irene.

Duchess Arlet pun terkejut setelah mendengar perkataan Irene. Tetapi tidak lama kemudian dia pun tersenyum.

"Baiklah. Kalau begitu kita tetap pakai syarat yang kita sepakati sebelumnya," ucap Duchess Arlet.

"Iya, ibunda," ucap Irene.

"Baiklah. Itu saja yang ingin aku sampaikan, apa ada dari kalian yang ingin menanyakan sesuatu terkait ekspedisi nanti?," tanya Duchess Arlet.

"Tidak, bibi Arlet," ucapku.

"Tidak, ibunda," ucap Irene.

Baik aku dan Irene tidak memiliki pertanyaan untuk ditanyakan.

"Ya sudah kalau begitu. Sayang, apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi?," tanya Duchess Arlet kepada Duke Louis.

"Tidak ada," ucap Duke Louis.

Duke Louis yang sebelumnya hanya diam, kini mulai berbicara lagi.

"Ya sudah, karena sudah tidak ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan, kalian berdua boleh kembali ke kamar kalian masing-masing," ucap Duchess Arlet.

"Baik, bibi Arlet," ucapku.

"Baik, ibunda," ucap Irene.

Setelah itu, aku dan Irene lalu bergegas untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Lalu, saat aku sudah membuka pintu dan hendak keluar dari ruangan itu, Duchess Arlet tiba-tiba mengatakan sesuatu kepadaku.

"Rid, aku mengucapkan terima kasih atas laporanmu tentang 2 naga es itu dan aku mengucapkan terima kasih lagi karena kamu telah bersedia untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini," ucap Duchess Arlet.

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, aku lalu langsung menanggapinya.

"Sama-sama, bibi Arlet. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat malam, bibi Arlet, paman Louis," ucapku.

"Iya, selamat malam," ucap Duchess Arlet.

"Selamat malam, Rid," ucap Duke Louis.

Kemudian, aku berjalan keluar dari ruangan itu, menutup pintu itu kembali lalu segera berjalan pergi menuju ke kamarku.

Sementara itu, setelah Rid dan Irene pergi dari ruangan itu, Duchess Arlet lalu membicarakan sesuatu dengan Duke Louis.

"Saat aku memperbolehkan Irene untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho, kamu hanya diam saja dan tidak menolak. Apa kamu sekarang sudah menyetujuinya, sayang?," tanya Duchess Arlet.

Duke Louis pun terdiam sejenak. Tetapi tidak lama kemudian dia mulai berbicara untuk menjawab pertanyaan Duchess Arlet.

"Iya, aku menyetujuinya. Perkataanmu yang sebelumnya benar, aku sampai sekarang masih terlalu protektif kepada Irene. Aku baru sadar kalau Irene saat ini sudah dewasa. Dia berhak untuk menentukan pilihannya sendiri," ucap Duke Louis.

"Baguslah kalau kamu sekarang sudah mengerti. 1 tahun yang lalu, ketika Irene bilang kalau dia ingin ikut dengan Rid untuk mewujudkan impian Rid, aku juga sempat menolak dan melarang Irene untuk ikut. Tetapi saat itu juga aku sadar kalau Irene sudah dewasa, dia berhak untuk menentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tuanya wajar untuk khawatir, tetapi kita tidak berhak untuk mengatur-ngatur Irene lagi. Biarlah dia sendiri yang menentukan pilihannya," ucap Duchess Arlet.

"Iya, kamu benar," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, sebuah kristal komunikasi yang kebetulan sudah ada di atas meja kerja Duke Louis tiba-tiba mengeluarkan cahaya. Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut ketika mengetahui kalau kristal komunikasi itu tiba-tiba bercahaya.

"Sepertinya ada yang ingin menghubungimu, sayang," ucap Duchess Arlet. 𝐟𝐫𝕖𝗲𝘄𝚎𝗯𝕟𝐨𝕧𝐞𝚕.𝕔𝕠𝐦

"Mungkin itu Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.

Setelah itu, Duke Louis mengambil kristal komunikasi itu dan menjawab panggilannya.

"Halo?," ucap Duke Louis.

"Tuan Louis, ini aku," ucap suara dari kristal komunikasi itu.

"Ada apa, Yang Mulia Ratu?," tanya Duke Louis.

Sesuai perkataan Duke Louis barusan, ternyata yang menghubunginya memang Ratu Kayana.

"Aku ingin menginformasikan kalau aku akan memberikan tambahan bantuan kepada anda yang ingin melakukan ekspedisi ke pegunungan Orokho. Sebelumnya, aku bilang kalau aku akan mengutus beberapa prajuritku untuk ikut dalam ekspedisi itu. Beberapa prajuritku itu akan aku utus untuk datang ke kediaman anda besok. Aku juga akan memberikan bantuan seperti bantuan perbekalan atau logistik," ucap Ratu Kayana.

Duke Louis terlihat terkejut setelah mendengar perkataan Ratu Kayana. Tidak hanya Duke Louis saja, Duchess Arlet yang mendengar pembicaraan mereka pun juga terkejut.

"Itu terlalu banyak, Yang Mulia Ratu. Bantuan prajurit saja sudah cukup, Yang Mulia Ratu. Kami tidak mau terlalu merepotkan anda," ucap Duke Louis.

"Ini tidak merepotkan, tuan Louis. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku akan membantu anda apabila anda ingin melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho lagi. Ini bantuan yang bisa aku berikan,"

"Mungkin bantuan yang bisa aku berikan ini terlalu sedikit jadi aku minta maaf," ucap Ratu Kayana.

"Tidak, Yang Mulia Ratu. Justru bantuan ini lebih dari cukup, malah menurut saya bantuan ini terlalu berlebihan," ucap Duke Louis.

"Justru menurutku bantuan yang bisa aku berikan ini terlalu sedikit. Oleh karena itu aku akan memberikan bantuan tambahan. Aku akan mengizinkan Asier dan juga Ivana untuk ikut dalam ekspedisi itu," ucap Ratu Kayana.

Duke Louis dan Duchess Arlet pun kembali terkejut setelah mendengar perkataan Ratu Kayana.

-

Sementara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.

Wanita berwujud humanoid naga yang tinggal di gua itu terlihat sedang melihat dan menatap tajam dari kursi singgasananya. Wanita itu sedang menatap tajam ke arah seseorang yang saat ini sedang berada tidak jauh di depannya. 100 ekor naga es dan 3 naga es berukuran sangat besar yang ada di belakang singgasana wanita itu juga terlihat sedang menatap ke sosok seseorang itu. Sosok yang ada di depan wanita berwujud humanoid naga itu adalah seorang wanita manusia yang mengenakan pakaian perpaduan warna putih dan biru tua. Wanita itu memiliki rambut dan kedua bola mata yang sama-sama berwarna biru tua.

Wanita itu adalah Undine, ’Rebelles Commanders’ kedua dari Engill Forstorelse sekaligus merupakan Divine Water Elemental Spirits.

"Untuk apa kamu datang kemari, Undine?," tanya wanita naga itu sambil terus menatap tajam ke arah Undine.

-Bersambung

How did this chapter make you feel?

One tap helps us surface trending chapters and recommend titles you'll actually enjoy — your vote shapes You may also like.