Peace Hunter

Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3

Peace Hunter

Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3

Translate to
Chapter 507: Chapter 507 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 3

Pagi hari menjelang siang, di halaman depan kediaman Duke Louis.

Terlihat banyak prajurit yang terdiri dari prajurit Duke San Lucia, prajurit Storm Leopard dan prajurit kerajaan San Fulgen yang ditugaskan di ibukota San Estella sedang berkumpul di halaman depan kediaman Duke Louis. Para prajurit yang berkumpul itu adalah para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho nanti.

Selain para prajurit, ada juga komandan Asier dan komandan Ivana yang juga ikut berkumpul di halaman depan. Selain itu, ada juga anggota keluarga San Lucia yang berkumpul di antaranya Irene, Nadine, tuan Irwin yang merupakan ayah Nadine dan lainnya. Para pelayan kediaman Duke Louis seperti Leandra dan Lily juga ikut berkumpul di halaman depan kediaman. Di antara orang-orang yang sedang berkumpul itu, tidak terlihat Rid di antara mereka.

Sementara di hadapan mereka yang sedang berkumpul, terlihat Duke Louis dan Duchess Arlet sedang berdiri menghadap ke mereka yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka berdua ingin mengatakan sesuatu kepada mereka semua yang sedang berkumpul.

"Selamat pagi, semuanya," ucap Duke Louis.

Semua orang yang berkumpul itu lalu membalas sapaan Duke Louis.

"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua karena telah bersedia berkumpul di halaman depan kediaman kami. Alasan aku meminta kalian semua berkumpul adalah untuk membahas tentang ekspedisi di pegunungan Orokho,"

"Mungkin ada beberapa dari kalian yang belum tahu kalau kami, keluarga San Lucia sebagai penguasa wilayah San Lucia selalu melakukan ekspedisi di pegunungan Orokho. Dulunya, keluarga San Lucia sering melakukan ekspedisi, bahkan setiap tahunnya sering diadakan ekspedisi. Tetapi beberapa tahun ini keluarga kami memutuskan untuk tidak melakukan ekspedisi terlebih dahulu, apalagi istriku sempat mengalami insiden di ekspedisi terakhir. Tetapi kali ini, keluarga kami ingin melakukan ekspedisi kembali. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk membunuh pemimpin kawanan naga es yang telah merubah pegunungan Orokho menjadi pegunungan es,"

"Mungkin kalian sudah tahu kalau dulunya pegunungan Orokho bukanlah pegunungan es dan wilayah San Lucia yang berada dekat dengannya bukanlah wilayah yang dingin seperti saat ini. Tetapi sejak kedatangan kawanan naga es dan pemimpinnya di pegunungan Orokho, pegunungan Orokho pun diubah menjadi pegunungan es oleh pemimpin naga es itu. Dengan dirubahnya pegunungan Orokho menjadi pegunungan es, wilayah San Lucia pun juga terkena dampaknya. Wilayah San Lucia yang sebelumnya adalah wilayah biasa seperti wilayah lainnya yang ada di kerajaan San Fulgen berubah menjadi wilayah yang selalu dingin. Alasan kami ingin membunuh pemimpin naga es itu adalah untuk mengembalikan iklim pegunungan Orokho dan juga wilayah San Lucia seperti semula,"

"Di ekspedisi terakhir, istriku dan pasukannya sempat melawan pemimpin naga es tersebut. Tetapi istriku dapat dikalahkan dengan mudah dan seluruh pasukannya pun dibunuh oleh pemimpin naga es itu. Aku bersyukur karena istriku masih selamat meskipun harus mengalami tidur panjang karena dia menggunakan salah satu teknik terlarang keluarga kami untuk melawan pemimpin naga es itu. Selain itu, aku juga berduka atas tewasnya semua prajurit yang ikut dalam ekspedisi terakhir. Beberapa dari kalian mungkin ada yang memiliki hubungan dengan para prajurit yang tewas itu," ucap Duke Louis.

Setelah itu, suasana di tempat itu pun menjadi hening. Beberapa prajurit dan pelayan yang sedang berkumpul itu terlihat memasang ekspresi sedih. Mereka yang bersedih itu sepertinya memiliki hubungan dengan para prajurit yang telah tewas di ekspedisi sebelumnya. Suasana hening di tempat itu pun berlangsung selama sekitar 2 menit.

Setelah itu, Duke Louis pun kembali berbicara.

"Itu saja yang ingin aku katakan. Setelah ini, istriku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua," ucap Duke Louis.

Duke Louis pun berhenti berbicara dan kemudian Duchess Arlet mulai berbicara.

"Aku akan langsung saja, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian, yaitu perihal ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang yang berkumpul di halaman depan kediaman Duke Louis nampak fokus untuk mendengarkan perkataan Duchess Arlet.

"Sejak dulu, keluarga San Lucia percaya kalau makhluk yang telah mengubah pegunungan Orokho menjadi pegunungan es dan sekaligus mengubah iklim wilayah San Lucia adalah sosok pemimpin sekawanan naga es. Orang-orang di wilayah San Lucia dan kerajaan San Fulgen juga mempercayai hal itu meskipun beberapa dari mereka hanya percaya sebatas rumor saja. Karena kepercayaan ini sudah turun temurun dari keluarga San Lucia, aku sendiri pun juga mempercayai kalau sosok naga es lah yang telah merubah iklim wilayah San Lucia,"

"Tetapi aku juga memiliki sedikit perasaan yang tidak yakin kalau sesosok naga es bisa mengubah pegunungan menjadi es dan merubah iklim suatu wilayah. Sekuat-kuatnya sesosok Naga, aku tidak yakin dia bisa melakukan hal itu. Dan hal itu terjawab ketika aku bertemu dengan sosok โ€™naga esโ€™ yang telah mengubah pegunungan Orokho menjadi pegunungan es. Wujudnya memang menyerupai wujud humanoid naga, tetapi aku yakin kalau makhluk itu sebenarnya bukanlah naga," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang yang berkumpul itu terlihat terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Mereka semua terkejut kecuali Irene, Nadine, komandan Asier, komandan Ivana dan anggota keluarga San Lucia yang lainnya. Para anggota keluarga San Lucia sepertinya sudah mengetahui tentang makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho, jadi mereka tidak terkejut lagi.

"Makhluk yang mengubah pegunungan Orokho menjadi pegunungan es bukanlah sesosok naga es!?,"

"Lalu makhluk apa itu?," tanya orang-orang yang terkejut itu.

"Pertama-tama, aku akan menceritakan terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya terjadi di ekspedisi sebelumnya. Aku akan menceritakan dari awal ekspedisi sampai aku melawan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, Duchess Arlet pun menceritakan secara lengkap tentang ekspedisi di pegunungan Orokho sebelumnya. Dia benar-benar menceritakan secara lengkap dari awal dimulainya ekspedisi itu sampai dia dikalahkan oleh makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho. Orang-orang selain para anggota keluarga San Lucia yang berkumpul itu terlihat sangat terkejut setelah mendengar cerita Duchess Arlet. ๐Ÿ๐•ฃ๐•–๐ž๐ฐ๐•–๐š‹๐ง๐—ผ๐šŸ๐ž๐•.๐—ฐ๐จ๐ฆ

"Apa-apaan itu!? Makhluk itu bisa mengendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya!?,"

"Sebenarnya makhluk apa itu!?,"

"Apa makhluk itu adalah monster!?," ucap orang-orang yang terkejut itu.

Orang-orang yang berkumpul itu langsung heboh dan mulai bertanya-tanya tentang makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho. Di tengah kehebohan itu, Duchess Arlet pun kembali berbicara.

"Aku belum tahu secara pasti makhluk apa yang tinggal di pegunungan Orokho itu. Tetapi setelah melihat dan merasakan kemampuannya secara langsung, aku mendapatkan kesimpulan tentang wujud asli makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang yang sebelumnya heboh pun langsung terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Mereka dengan tenang menunggu kesimpulan Duchess Arlet tentang wujud asli makhluk itu. Sementara itu, Duchess Arlet kembali melanjutkan perkataannya.

"Makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu sepertinya adalah salah satu Divine Elemental Spirits yang merupakan Ratu atau pemimpin dari segala Roh es yaitu Divine Ice Elemental Spirits," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, Orang-orang yang berkumpul itu pun kembali heboh. Mereka sangat terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet.

"Tidak mungkin!?,"

"Divine Elemental Spirits, bukankah itu merupakan roh terkuat!?,"

"Jadi makhluk yang telah mengubah pegunungan Orokho dan iklim wilayah San Lucia merupakan sesosok Roh?!," ucap orang-orang yang terkejut itu.

Mereka semua tidak menyangka kalau makhluk yang telah mengubah pegunungan Orokho dan iklim wilayah San Lucia adalah sesosok Roh, padahal sebelumnya mereka berpikir kalau sosok itu adalah sosok naga es.

"Tunggu sebentar, nona Duchess," ucap salah satu prajurit yang ikut berkumpul.

Prajurit itu terlihat mengenakan seragam prajurit Duke San Lucia. Setelah mendengar perkataan prajurit itu, Duchess Arlet lalu menoleh ke prajurit itu. Tidak hanya Duchess Arlet, semua orang yang sedang berkumpul itu juga ikut menoleh ke arah prajurit itu.

"Ada apa?," tanya Duchess Arlet.

"Maaf karena telah mengganggu anda yang sedang berbicara. Saya hanya masih tidak percaya kalau makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu merupakan seorang Roh,"

"Ayah dan kakek saya merupakan mantan prajurit Duke San Lucia. Mereka berdua dulu pernah ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho beberapa kali sebelumnya. Mereka berdua bercerita kalau di pegunungan Orokho mereka melawan banyak sekali naga. Naga yang mereka lawan merupakan naga sungguhan, bukan naga yang terbuat dari sihir,"

"Saat ekspedisi itu, anda masih sangat muda, tetapi anda pasti tahu tentang ekspedisi itu. Anda juga pastinya melihat potongan tubuh para naga yang dikalahkan di pegunungan Orokho karena potongan tubuh naga itu dibawa ke kediaman ini," ucap prajurit itu.

"Iya, aku tahu soal ekspedisi itu. Beberapa ekspedisi yang terjadi saat aku masih muda itu dipimpin oleh ayahanda dan juga kakekku. Aku juga melihat potongan tubuh naga itu dan memang benar itu adalah naga asli," ucap Duchess Arlet.

"Lantas kenapa makhluk yang kita lawan di pegunungan Orokho adalah sesosok Roh dan bukan naga? Dari jejak ekspedisi sebelumnya, seharusnya yang kita lawan adalah para naga es, bukan sesosok Roh. Kenapa bisa ada Roh yang tinggal di pegunungan Orokho dan kenapa juga Roh itu baru diketahui sekarang?," tanya prajurit itu.

Duchess Arlet pun langsung menjawab pertanyaan itu.

"Para naga es yang tinggal di pegunungan Orokho sudah dihabisi oleh ayahanda dan kakekku beserta para pasukan ekspedisi setelah mereka melakukan beberapa ekspedisi saat itu. Yang tersisa hanyalah pemimpin dari para naga es itu. Ayahanda dan kakekku terus berusaha mencarinya tetapi pemimpin naga itu tidak pernah ditemukan. Kakekku sebelumnya pernah bertemu dengan pemimpin naga es itu, tetapi dia dikalahkan dan dia pun terluka parah. Meski pernah dikalahkan dan terluka parah, kakekku terus berusaha mencari pemimpin naga es itu tetapi setelah itu dia tidak menemukan pemimpin naga es itu lagi bahkan sampai akhir hayatnya,"

"Lalu ekspedisi selanjutnya dilanjutkan olehku yang memiliki tujuan yang sama dengan ayahanda dan kakekku yaitu untuk mencari pemimpin naga es itu lalu membunuhnya. Ketika aku dan pasukanku tiba di pegunungan Orokho, kami pun terkejut karena melihat banyak naga es yang terbang menghampiri kami. Sebagian besar dari kami saat itu menanyakan hal yang sama, โ€™Kenapa masih ada naga es di pegunungan ini? Bukankah semua naga es telah dikalahkan di ekspedisi-ekspedisi sebelumnya?โ€™. Itu membuat kami bertanya-tanya. Tetapi setelah itu kami tahu kalau para naga es yang menghampiri kami bukanlah naga es asli melainkan naga es yang tercipta dari sihir,"

"Kami semua pun lalu mengalahkan naga es yang te cipta dari sihir es itu. Dan setelah kami mengalahkan semua naga es itu, muncul lah makhluk itu. Makhluk yang menyerupai wujud humanoid Naga. Aku cuma menduga kalau makhluk itu adalah Divine Ice Elemental Spirits dari kekuatan dan kemampuannya, aku belum memastikan apakah makhluk itu benar-benar Divine Ice Elemental Spirits atau tidak,"

"Makhluk itu kemungkinan sudah berada di pegunungan Orokho sejak pegunungan Orokho berubah menjadi pegunungan es. Setelah pegunungan Orokho berubah menjadi pegunungan es, mungkin pegunungan itu menarik perhatian para naga es yang asli sehingga mereka datang kesana. Karena itulah, di ekspedisi-ekspedisi sebelumnya yang dilawan adalah para naga asli. Namun karena para naga es asli itu sudah dihabisi semua, yang tersisa di pegunungan itu adalah makhluk itu. Itu hanyalah hipotesisku saja tentang para naga es asli dan makhluk itu. Bisa saja makhluk itu sebelumnya bekerja sama dengan para naga es asli itu,"

"Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menduga-duga saja, kita baru bisa mendapat jawaban yang benar setelah kita melawan dan mengalahkan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Orang yang berbicara dengan Duchess Arlet itu lalu terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Setelah itu, Duchess Arlet pun kembali berbicara.

"Ekspedisi di pegunungan Orokho nanti akan menjadi ekspedisi yang sangat berbahaya. Selain melawan makhluk yang bisa mengendalikan wilayah pegunungan Orokho, mungkin kita juga akan melawan naga-naga es ciptaan makhluk itu. Di ekspedisi sebelumnya, aku dan pasukan ekspedisiku berhasil mengalahkan semua naga es ciptaan makhluk itu dan membuat makhluk itu muncul di hadapan kami,"

"Kali ini, sepertinya makhluk itu telah membuat naga es lagi karena kemarin, Rid Archie, wakil komandan Agneta serta beberapa prajurit Storm Leopard yang sedang berada di perbatasan pegunungan Orokho tiba-tiba diserang oleh 2 naga es yang tercipta dari sihir. 2 naga es itu berukuran sangat besar namun untungnya Rid Archie berhasil mengalahkan 2 naga es itu. 2 naga es itu kemungkinan merupakan ciptaan dari makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Setelah mendengar perkataan Duchess Arlet, orang-orang yang berkumpul itu terlihat takjub.

"Lagi-lagi Rid Archie, dia kembali membuat takjub,"

"Iya, kau benar,"

"Daripada itu, barusan nona Duchess bilang kalau Rid Archie serang berada di perbatasan pegunungan Orokho?. Untuk apa dia berada disana?,"

"Dari yang aku dengar, dia disana untuk membantu mengalahkan para monster dan hewan buas dari pegunungan Orokho yang turun ke perbatasan," ucap orang-orang itu.

Komandan Asier pun juga terlihat takjub.

"Tidak mengherankan kalau Rid bisa mengalahkan 2 naga es itu soalnya dia punya teknik pembunuh naga seperti yang dia tunjukkan saat turnamen akademi," ucap komandan Asier.

Sementara komandan Ivana terlihat sedang tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Setelah itu, Duchess Arlet pun kembali berbicara.

"Jika makhluk itu telah membuat naga es lagi, maka kita semua harus melawan naga-naga es itu sebelum kita melawan makhluk itu. Kali ini, jumlah naga es itu mungkin akan lebih banyak daripada saat ekspedisi terakhir. Tidak hanya melawan para naga es itu saja, kita juga harus melawan para monster dan hewan buat yang menghuni pegunungan Orokho,"

"Apalagi, medan dan suhu pegunungan Orokho yang ekstrem juga merupakan salah satu faktor yang membuat ekspedisi di pegunungan Orokho merupakan ekspedisi yang sangat berbahaya," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang yang sebelumnya takjub setelah Duchess Arlet membahas Rid tiba-tiba mulai terdiam kembali. Sementara Duchess Arlet terus melanjutkan perkataannya.

"Meski saat ekspedisi nanti akan ada beberapa orang kuat yang ikut seperti Rid Archie, Asier dan Ivana, tetapi orang-orang yang kuat itu tidak akan bisa menjamin keselamatan dan keamanan kalian. Mereka belum tentu bisa melindungi kalian dari medan dan suhu ekstrem pegunungan Orokho, serta makhluk-makhluk berbahaya yang tinggal disana. Apalagi ketika kita sedang menghadapi โ€™makhluk ituโ€™, mereka tidak akan bisa melindungi kalian karena mereka harus fokus melawan โ€™makhluk ituโ€™. Kalian yang ikut dalam ekspedisi nanti harus menjaga dan melindungi diri kalian sendiri dari segala macam bahaya yang ada di pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.

Sebagian besar dari orang-orang yang berkumpul itu terlihat tegang dan khawatir setelah mendengar perkataan Duchess Arlet.

"Oleh karena itu, setelah mempertimbangkan betapa berbahayanya ekspedisi ini, aku- tidak, maksudnya kami, keluarga San Lucia mempersilahkan bagi kalian untuk memilih apakah ingin ikut dalam ekspedisi ini atau tidak," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang itu pun terkejut setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Mereka tidak menyangka kalau Duchess Arlet akan memberikan pilihan kepada mereka.

"Untuk para prajurit dari San Lucia, kami tidak akan marah ataupun memberikan hukuman kepada kalian apabila kalian memutuskan untuk tidak ikut. Untuk para prajurit Storm Leopard, kami akan memastikan komandan Allister tidak akan memarahi ataupun memberikan hukuman kepada kalian apabila kalian memutuskan untuk tidak ikut. Untuk para prajurit dari ibukota San Estella, kami akan memastikan Yang Mulia Ratu tidak akan memarahi ataupun memberikan hukuman kepada kalian apabila kalian memutuskan untuk tidak ikut,"

"Kalian bebas untuk memilih. Kalaupun kalian memilih untuk tidak ikut, itu adalah hal yang wajar karena ekspedisi di pegunungan Orokho merupakan ekspedisi yang sangat berbahaya. Nyawa kalian mungkin akan berakhir disana," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang yang berkumpul itu pun terdiam setelah mendengar perkataan Duchess Arlet. Sebagian besar dari mereka terlihat sedang bimbang dan bingung apakah mereka ingin lanjut ikut atau tidak. Sementara Duchess Arlet terus melanjutkan perkataannya.

"Bagi kalian yang tidak ikut, aku mohon untuk mengangkat tangan kanan kalian," ucap Duchess Arlet.

Orang-orang itu pun terus terdiam. Meski sebagian besar dari mereka terlihat bimbang dan bingung, tetapi mereka masih belum mengangkat tangan kanan mereka. Namun beberapa saat kemudian, orang-orang yang berkumpul itu mulai mengangkat tangan kanan mereka satu persatu.

-

Sementara itu, di wilayah perbatasan antara pegunungan Orokho dengan wilayah San Lucia.

Aku saat ini sedang berdiri di tengah banyaknya jasad monster dan hewan buas. Para monster dan hewan buas itu baru saja aku kalahkan dan sekarang jasad mereka tersebar di sekelilingku. Sambil berdiri, aku lalu menaruh pedangku yang sebelumnya aku gunakan untuk membunuh monster dan hewan buas itu di pinggangku.

"Saat ini, bibi Arlet pasti sedang menjelaskan tentang betapa berbahayanya ekspedisi di pegunungan Orokho kepada orang-orang yang akan ikut ekspedisi nanti. Aku penasaran kira-kira berapa jumlah orang yang ikut dalam ekspedisi nanti setelah bibi Arlet menjelaskan tentang hal itu. Aku yakin tidak sedikit dari orang-orang itu yang memilih untuk tidak ikut setelah mendengar penjelasan Duchess Arlet,"

"Yah, mau banyak atau sedikit orang-orang yang ikut dalam ekspedisi nanti, aku tidak terlalu memperdulikannya. Dengan jumlah orang yang sedikitpun, ekspedisi itu pasti akan tetap dilaksanakan," ucapku sambil menaruh pedangku di pinggangku.

Setelah menaruh pedangku, aku lalu menoleh ke arah lain, tepatnya ke arah pegunungan Orokho yang jaraknya tidak terlalu jauh dariku. Setelah menoleh, aku lalu melihat dan menatap pegunungan itu.

"2 hari lagi ya....," ucapku.

-Bersambung

How did this chapter make you feel?

One tap helps us surface trending chapters and recommend titles you'll actually enjoy โ€” your vote shapes You may also like.