Peace Hunter

Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4

Peace Hunter

Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4

Translate to
Chapter 508: Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 4

Kembali ke halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Orang-orang yang berkumpul itu atau lebih tepatnya orang-orang yang awalnya akan ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho mulai mengangkat tangan kanan mereka satu persatu. Mereka terus mengangkat tangan kanan mereka sampai tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat tangan mereka lagi.

Duchess Arlet yang melihat satu persatu dari mereka mulai mengangkat tangan mereka awalnya hanya bersikap biasa saja. Dia tahu kalau akan ada dari mereka yang memilih tidak ikut setelah dia menjelaskan bahaya dari ekspedisi itu. Tetapi setelah orang-orang itu berhenti mengangkat tangan kanan mereka, Duchess Arlet pun terkejut setelah melihat dan memperhatikan orang-orang yang mengangkat tangan kanan mereka. Duchess Arlet terkejut karena tidak ada satupun dari prajurit Duke San Lucia yang mengangkat tangan kanan mereka. Itu berarti para prajurit Duke San Lucia yang berkumpul itu memilih untuk tetap ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho meskipun mereka sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu.

"Kalian, kenapa tidak ada satupun dari kalian yang mengangkat tangan kanan kalian? Kalian sudah tahu kan kalau ekspedisi ini adalah ekspedisi yang berbahaya, tetapi kenapa tidak ada satupun dari kalian yang memilih untuk tidak ikut?," tanya Duchess Arlet kepada para prajurit Duke San Lucia.

Para prajurit Duke San Lucia itu terdiam setelah mendengar pertanyaan Duchess Arlet. Namun tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit itu mulai berbicara.

"Maaf, nona Duchess. Saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda," ucap prajurit itu.

"Menanyakan apa?," tanya Duchess Arlet.

"Jika sebagian besar dari orang-orang yang berkumpul disini memilih untuk tidak ikut dan hanya tersisa sedikit orang saja yang ikut, apa ekspedisinya akan tetap dilanjutkan?," tanya prajurit itu.

"Iya, ekspedisinya akan tetap dilanjutkan. Bahkan jika tidak ada satupun prajurit yang ikut, kami keluarga San Lucia akan tetap melanjutkan ekspedisinya," ucap Duchess Arlet.

"Begitu ya. Kalau begitu, keputusan kami semua sudah tepat untuk tetap memilih ikut dalam ekspedisi itu," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet terlihat bingung setelah mendengar perkataan prajurit itu.

"Kenapa? Ekspedisi di pegunungan Orokho adalah ekspedisi yang berbahaya. Jika kalian tetap ikut, kalian mungkin bisa saja mati disana," ucap Duchess Arlet.

"Karena kami tahu ekspedisi itu adalah ekspedisi yang berbahaya, makanya kami memutuskan untuk tetap ikut. Mana mungkin kami akan membiarkan keluarga yang kami layani selama ini berada dalam bahaya. Kami tidak akan membiarkan hal itu karena itu akan menghancurkan harga diri kami sebagai prajurit Duke San Lucia," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet yang mendengar itu pun terkejut. Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis yang berada di samping Duchess Arlet juga terkejut setelah mendengar perkataan prajurit itu. Lalu, setelah prajurit itu mengatakan hal itu, para prajurit Duke San Lucia yang lain pun mulai berbicara.

"Itu benar, harga diri kami akan hancur apabila kami memilih tidak ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho sementara keluarga yang selama ini kami layani tetap memilih ikut dalam ekspedisi itu,"

"Keluarga saya sudah sejak lama melayani dan mengabdi kepada keluarga San Lucia. Ayah saya dan kakek saya dulu juga merupakan prajurit Duke San Lucia saat itu. Mereka juga pernah ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Meskipun berbahaya mereka tetap ikut dalam ekspedisi itu. Jika saya memilih untuk tidak ikut dalam ekspedisi itu hanya karena ekspedisi itu berbahaya, saya akan membuat malu ayah dan kakek saya,"

"Tuan Duke dan nona Duchess sudah beberapa kali membantu saya dan keluarga saya. Jika tuan Duke dan nona Duchess membutuhkan bantuan, tentu saya akan membantu termasuk untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Meskipun berbahaya, saya tidak peduli. Saya siap mempertaruhkan nyawa saya,"

"Saya juga sama, saya siap untuk mempertaruhkan nyawa saya," ucap para prajurit Duke San Lucia.

Setelah mendengar itu, Duchess Arlet pun langsung terharu.

"Kalian....," ucap Duchess Arlet.

Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis juga terharu setelah mendengar perkataan para prajurit Duke San Lucia. Mereka berdua tidak menyangka kalau para prajurit yang mereka miliki akan berani mempertaruhkan nyawanya untuk mereka. Padahal para prajurit itu sudah diberi kebebasan untuk memilih apakah ingin lanjut ikut ekspedisi atau tidak, tetapi para prajurit itu tetap memilih untuk ikut meski sudah tahu akan bahayanya.

Sementara komandan Asier, komandan Ivana dan para keluarga San Lucia yang lain terlihat tersenyum setelah mendengar perkataan para prajurit Duke San Lucia itu.

Beberapa saat kemudian, setelah sempat terharu dengan perkataan para prajurit Duke San Lucia, kini Duchess Arlet kembali bersikap normal. Dia lalu kembali mengatakan sesuatu kepada para prajurit yang sedang berkumpul itu.

"Sepertinya tidak ada yang mengangkat tangan lagi. Kalau begitu, untuk para prajurit yang mengangkat tangan, silahkan saling berkumpul. Untuk para prajurit yang tidak mengangkat tangan juga silahkan saling berkumpul agar kami bisa membedakannya," ucap Duchess Arlet.

Para prajurit yang tidak mengangkat tangan kemudian mulai bergerak dan berkumpul dengan para prajurit yang tidak mengangkat tangan lainnya. Sementara para prajurit yang sebelumnya mengangkat tangannya terlihat belum bergerak sama sekali. Duchess Arlet yang menyadari itu pun terlihat bingung.

"Kalian yang sebelumnya mengangkat tangan, kenapa kalian belum bergerak dan saling berkumpul? Apa kalian masih memikirkan tentang keputusan kalian itu? Jika iya, kalian tenang saja. Sesuai perkataanku sebelumnya, aku yang akan bertanggung jawab apabila pemimpin kalian yaitu komandan Allister atau Yang Mulia Ratu memberikan hukuman. Jadi kalian tidak perlu khawatir," ucap Duchess Arlet.

Alasan Duchess Arlet menyebut nama komandan Allister dan Ratu Kayana adalah karena para prajurit yang mengangkat tangan itu semuanya adalah prajurit Storm Leopard dan prajurit yang berjaga di ibukota San Estella. Sementara para prajurit Duke San Lucia tidak ada satupun yang mengangkat tangan.

Setelah Duchess Arlet mengatakan itu, para prajurit yang mengangkat tangan itu masih belum bergerak juga. Meski masih bingung kenapa para prajurit itu belum bergerak juga, Duchess Arlet kini hanya diam saja. Lalu tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit yang sebelumnya mengangkat tangan tiba-tiba mulai berbicara.

"Maaf, nona Duchess. Saya ingin membatalkan keputusan yang saya buat," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet lalu menoleh ke arah prajurit yang berbicara itu.

"Saya awalnya mengangkat tangan saya dan memilih untuk tidak ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Tetapi sekarang saya ingin membatalkan keputusan saya itu. Saya tetap ingin ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap prajurit itu.

Setelah prajurit itu berbicara, prajurit yang lain pun juga ikut berbicara.

"Saya juga, nona Duchess,"

"Saya juga. Saya tetap ingin ikut dalam ekspedisinya,"

"Saya juga," ucap para prajurit yang sebelumnya mengangkat tangan kanan mereka.

Duchess Arlet pun terkejut setelah mendengar perkataan para prajurit itu.

"Bukannya kalian semua sebelumnya memilih untuk tidak ikut? Kenapa kalian sekarang memilih untuk membatalkan pilihan kalian itu?," tanya Duchess Arlet.

Salah satu dari prajurit itu lalu menjawab pertanyaan Duchess Arlet. Prajurit itu mengenakan seragam kerajaan San Fulgen yang berarti prajurit itu merupakan prajurit yang awalnya bertugas untuk menjaga ibukota San Estella.

"Setelah melihat kesetiaan yang ditunjukkan oleh para prajurit San Lucia terhadap keluarga San Lucia, saya merasa malu pada diri saya sendiri. Para prajurit San Lucia berani memilih untuk tetap ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho meski mereka sudah tahu seberapa bahaya ekspedisi tersebut. Malah mereka siap untuk mempertaruhkan nyawa mereka agar ekspedisi kali ini bisa berhasil dan tujuan ekspedisi ini pun dapat tercapai,"

"Sedangkan saya, setelah mengetahui bahaya dari ekspedisi tersebut, saya memilih untuk tidak ikut karena saya takut. Padahal saya sudah dipilih oleh Yang Mulia Ratu untuk ikut dalam ekspedisi tersebut, tetapi saya memilih untuk tidak ikut. Saya merasa malu karena saya tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepada saya dari Yang Mulia Ratu. Saya merasa kalau saya sudah tidak setia dengan Yang Mulia Ratu karena memilih kabur dari tugas yang diberikan beliau,"

"Saya benar-benar tertampar setelah melihat kesetiaan yang ditunjukkan oleh para prajurit Duke San Lucia. Kali ini, saya juga ingin menunjukkan kesetiaan saya kepada orang yang saya layani yaitu Yang Mulia Ratu," ucap prajurit itu.

Setelah prajurit itu berbicara, kali ini giliran seorang prajurit dari Storm Leopard yang berbicara.

"Dia benar. Saya juga tertampar setelah melihat para prajurit Duke San Lucia. Saya juga ingin menunjukkan kesetiaan saya kepada komandan saya yaitu komandan Allister. Jadi saya memilih untuk tetap ikut dalam ekspedisi ini," ucap prajurit itu.

Setelah itu, para prajurit yang sebelumnya mengangkat tangan kanan mereka pun ikut berbicara juga. Semua prajurit itu mengatakan alasan yang sama dengan yang dikatakan 2 prajurit sebelumnya. Sementara Duchess Arlet terlihat masih terkejut saat mendengar perkataan prajurit-prajurit itu. Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis pun juga terkejut.

"Apa kalian yakin? Apa kalian yakin ingin tetap ikut meski sudah tahu bahayanya? Jika kalian tetap memilih tidak ikut pun kami tidak masalah. Kami juga akan bertanggung jawab apabila kalian diberi hukuman oleh Yang Mulia Ratu atau komandan Allister," ucap Duchess Arlet.

Setelah Duchess Arlet mengatakan itu, para prajurit itu lalu mengatakan sesuatu dengan kompak.

"Kami yakin!," ucap para prajurit itu.

Duke Louis dan Duchess Arlet pun kembali terkejut. Mereka tidak menyangka kalau para prajurit yang sebelumnya memilih untuk tidak ikut, kini memilih untuk ikut kembali. Duke Louis dan Duchess Arlet yang terkejut pun tidak bisa berkata-kata. Mereka pun terdiam.

Tidak lama kemudian, Duke Louis lalu menoleh ke arah Duchess Arlet.

"Sayang, ini....," ucap Duke Louis.

Saat ini, wajah Duke Louis terlihat sedikit senang.

"Iya. Jika mereka semua memutuskan untuk ikut, itu berarti jumlah prajurit yang ikut kali ini lebih banyak daripada ekspedisi-ekspedisi sebelumnya,"

"Mungkin saja, kali ini kita bisa menyelesaikan ekspedisi ini dan mengakhirinya untuk selamanya," ucap Duchess Arlet.

Setelah mengatakan itu kepada Duke Louis, Duchess Arlet lalu berbicara kepada para prajurit yang ada di hadapannya.

"Aku terkejut sekaligus terharu. Aku tidak menyangka kalau semua prajurit yang terpilih untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho sudah yakin untuk ikut dalam ekspedisi tersebut. Tidak ada satupun dari prajurit yang terpilih yang memilih untuk tidak ikut,"

"Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian karena telah memilih untuk ikut meski kalian sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi ini," ucap Duchess Arlet sambil sedikit membungkuk.

Para prajurit, tepatnya para prajurit dari Storm Leopard dan prajurit yang bertugas di ibukota San Estella terlihat terkejut ketika melihat Duchess Arlet sedikit membungkuk. Mereka sepertinya tidak menyangka kalau bangsawan tingkat tinggi seperti Duchess Arlet sampai mau membungkuk ke arah mereka. Sementara para prajurit Duke San Lucia terlihat hanya bersikap biasa saja. Mereka tentu sudah terbiasa dengan sikap Duke Louis dan Duchess Arlet.

Setelah berterima kasih kepada para prajurit yang ada di hadapannya, Duchess Arlet kembali mengatakan sesuatu kepada para prajurit tersebut.

"Tentang ekspedisi di pegunungan Orokho yang akan dilaksanakan 2 hari lagi, apa kalian masih ada pertanyaan tentang ekspedisi tersebut?," tanya Duchess Arlet.

Para prajurit itu pun terdiam yang menandakan kalau tidak ada yang ingin mereka tanyakan.

"Tidak ada ya. Baiklah, karena sudah tidak ada hal lain yang ingin aku dan suamiku sampaikan, maka kami berdua ingin undur diri dulu. Setelah ini, kalian semua boleh bubar dan berisitirahat, apalagi ada di antara kalian yang baru saja tiba di kediaman ini seperti para prajurit Storm Leopard dan para prajurit dari ibukota San Estella,"

"Itu saja yang ingin kami sampaikan, sekarang kalian boleh bubar," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, orang-orang yang berkumpul di halaman depan kediaman Duke Louis seperti para anggota keluarga San Lucia, para prajurit, dan para pelayan pun langsung membubarkan diri. Duke Louis dan Duchess Arlet pun ikut membubarkan diri. Mereka berdua langsung pergi ke dalam kediaman mereka.

Irene, Leandra dan Lily yang juga ikut berkumpul terlihat juga ikut membubarkan diri.

"Ayo kita kembali ke tempat latihan, Leandra, Lily," ucap Irene.

"Baik, nona," ucap Leandra dan Lily.

Mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke tempat latihan untuk berlatih. Ketika mereka sedang berjalan menuju tempat latihan, tiba-tiba komandan Asier datang menghampiri mereka.

"Irene," ucap komandan Asier.

Irene pun langsung memberhentikan langkahnya dan menoleh ke arah komandan Asier yang memanggilnya.

"Kak Asier? Kakak baru tiba ya?," tanya Irene.

"Iya, aku baru tiba tepat sekitar 10-15 menit sebelum semua orang telah berkumpul disini, jadi aku tidak sempat untuk menyapa semuanya tadi," ucap komandan Asier.

"Begitu ya. Bagaimana kondisi kakak? Apa kakak dalam kondisi fit untuk ikut dalam ekspedisi kali ini?," tanya komandan Asier.

"Aku sekarang dalam kondisi fit, bahkan sangat fit. Aku sangat siap untuk mengikuti ekspedisi itu. Bagaimana denganmu? Semalam aku dengar dari ibunda kalau kamu akan ikut," ucap komandan Asier.

"Aku juga dalam kondisi fit," ucap Irene.

"Begitu ya. Kalian berdua gimana, Leandra, Lily? Karena Irene memutuskan untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho, apa kalian juga memutuskan untuk ikut?," tanya komandan Asier.

"Iya, tuan muda. Kami memutuskan untuk juga ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Leandra.

"Sesuai perkataan Lea, tuan muda," ucap Lily.

"Begitu ya. Jika situasi di pegunungan Orokho nanti menjadi berbahaya, kalian segera lah pergi meninggalkan pegunungan Orokho. Karena seperti yang ibunda tadi bilang, lawan kita di pegunungan Orokho nanti kemungkinan adalah sosok Roh tingkat tinggi. Mereka adalah makhluk yang sangat berbahaya," ucap komandan Asier.

"Baik, tuan muda. Kami juga akan membawa nona Irene bersama kami nanti," ucap Leandra.

"Aku mengandalkan kalian," ucap komandan Asier.

"Tunggu, aku tidak akan pergi dari pegunungan itu meskipun kalian membawaku," ucap Irene.

Setelah itu, komandan Asier kembali berbicara. Tetapi dia membicarakan hal lain yang berbeda dengan pembicaraan barusan.

"Ngomong-ngomong, Irene, aku tidak melihat Rid tadi. Apa dia sedang berlatih di perbatasan pegunungan Orokho?," tanya komandan Asier.

"Iya, kakak," ucap Irene.

"Padahal 2 hari lagi kita semua juga akan pergi ke pegunungan itu, tetapi dia masih saja berlatih di perbatasan pegunungan itu. Kapan biasanya dia selesai latihan?," tanya komandan Asier.

"Paling cepat sore hari dia sudah kembali kesini," ucap Irene.

"Jadi paling lama malam hari ya. Itu berarti hari ini sepertinya aku tidak bisa mengajaknya latih tanding. Aku ingin sekali mencoba berlatih tanding dengannya," ucap komandan Asier.

"Aku juga ingin mencoba berlatih tanding dengan Rid," ucap suara seorang wanita.

Komandan Asier, Irene, Leandra dan Lily langsung menoleh ke asal suara wanita tersebut. Ketika mereka semua telah menoleh, mereka melihat komandan Ivana yang sedang berjalan mendekati mereka.

"Kak Ivana," ucap Irene.

"Kamu juga ingin berlatih tanding dengan Rid, kak Ivana?," tanya komandan Asier.

"Iya. Aku penasaran ingin menguji seberapa kuat orang yang telah mengalahkan tuan Remy," ucap komandan Ivana.

"Aku pun juga sama. Kalau begitu besok kamu berlatih dengan Rid setelah aku, kak Ivana. Karena aku yang akan lebih dulu berlatih tanding dengannya," ucap komandan Asier.

"Tidak, aku yang lebih dulu, Asier," ucap komandan Ivana.

Mereka berdua pun saling berdebat untuk menentukan siapa yang akan berlatih tanding dengan Rid lebih dulu. Sementara Irene hanya diam saja sambil melihat mereka berdua yang terus berdebat.

-

Malam harinya, di kamar Rid.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian di kamar mandi, aku lalu keluar dari kamar mandi. Setelah keluar, aku melihat Irene yang sedang berbaring di kasur tempatku tidur sambil membaca buku milikku.

"Aku sudah selesai mandi. Ayo pergi makan malam, Irene," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Setelah itu, Irene pun beranjak dari kasurku. Saat Irene sudah berdiri, Irene kembali berbicara kepadaku.

"Ngomong-ngomong, Rid, saat kamu pulang tadi, apa kamu bertemu dengan kak Asier dan kak Ivana?," tanya Irene.

"Tidak, memangnya ada apa?," tanyaku.

"Kak Asier dan kak Ivana kelihatannya ingin latihan tanding denganmu. Besok mereka berdua sepertinya akan mengajakmu untuk berlatih tanding," ucap Irene.

"Kak Asier dan kak Ivana akan mengajakku untuk berlatih tanding besok?," tanyaku.

"Iya. Apa kamu akan menerimanya apabila mereka berdua mengajakmu untuk berlatih tanding?," tanya Irene.

"Tentu saja, ini kesempatan yang langka untuk bisa berlatih tanding dengan 2 komandan prajurit. Latih tanding dengan mereka akan berguna untuk mengukur kekuatanku saat ini. Aku menantikannya," ucapku.

-

Keesokan harinya, di tempat latihan kediaman Duke San Lucia.

Aku baru saja selesai berlatih tanding di tempat latihan itu. Di dekatku, ada Irene dengan tubuh yang terdapat beberapa luka. Irene saat ini sedang terduduk sambil memegang rapiernya sebagai pijakan agar dia tidak terjatuh. Tidak hanya Irene saja, ada juga Leandra dan Lily yang saat ini sudah tergeletak dengan kondisi tubuh yang dipenuhi beberapa luka. Mereka bertiga dalam kondisi tersebut karena ulahku. Aku baru saja mengalahkan mereka bertiga sekaligus dalam 1 latihan tanding.

Setelah itu, aku pun langsung menyembuhkan mereka bertiga.

~Full Healing~

Mereka bertiga pun langsung pulih total setelah aku sembuhkan. Setelah menyembuhkan mereka bertiga, aku mendengar suara seseorang yang sedang berbicara kepadaku.

"Kelihatannya kamu sudah selesai berlatih tanding dengan mereka, Rid," ucap suara itu.

Aku kenal dengan suara itu. Suara itu adalah suara komandan Asier. Setelah mendengar suara itu, aku pun langsung menoleh ke asal suara itu dan benar kalau suara itu adalah suara komandan Asier. Komandan Asier saat ini mengenakan pakaian atau seragam yang dikhususkan untuk berlatih. Dia tidak mengenakan seragam komandan yang biasa dia kenakan.

"Kak Asier," ucap

"Karena kamu sudah selesai dengan mereka, sekarang adalah giliranku," ucap komandan Asier.

"Tidak, sekarang adalah giliranku, Asier," ucap seorang wanita.

Aku kenal dengan suara wanita tersebut. Suara tersebut adalah suara komandan Ivana. Ketika aku menoleh ke asal suara tersebut, ternyata benar kalau suara tersebut merupakan suara komandan Ivana. Komandan Ivana mengenakan pakaian yang dikhususkan untuk berlatih sama seperti yang dikenakan komandan Asier.

"Kak Ivana, bukannya kemarin aku sudah bilang kalau aku yang lebih dulu berlatih dengan Rid?," tanya komandan Asier.

"Memang kamu bilang begitu, tetapi aku tidak menyetujuinya. Aku yang lebih dulu berlatih dengan Rid," ucap komandan Ivana.

Mereka berdua pun mulai berdebat. Beberapa menit kemudian, karena perdebatan mereka tidak kunjung selesai, aku pun langsung berbicara dengan mereka.

"Kak Asier, kak Ivana, jika kalian berdua masih berdebat tentang siapa yang lebih dulu berlatih tanding denganku, bagaimana jika kalian berdua berlatih tanding sekaligus denganku? Jadi, aku akan melawan kalian berdua sekaligus," ucapku.

-Bersambung

How did this chapter make you feel?

One tap helps us surface trending chapters and recommend titles you'll actually enjoy — your vote shapes You may also like.